Ketika saya masuk ke toilet di sebuah perusahaan susu terkenal, ketika keluar kamar kecil tersebut saya mau mematikan lampu kamar kecil tersebut. Tentu didekat pintulah saklarnya. Benar disebelah kiri pintu kamar kecil tersebut ada beberapa saklar dan saya klik yang paling kanan dari ketiga saklar yang ada. Eh... koq ndak mati,.. lantas saya klik sebelahnya.. koq sama.. klik lagi yang ketiga.. eh.. koq ndak mati juga. Kebetulan masih ada waktu sebelum acara poresentasi saya disana,... lalu saya ke saklar kedua.. klik lagi.. eh ndak mati juga itu lampu kamar kecil... busyet pikir saya. Ini pabrik soal saklar saja ndak beres. Bagaimana mau mengurus yang lebih dari itu. Ketika saya melangkah muncul seseorang yang dugaan saya pasti karyawan disitu,.. mas... "sapa saya",... ini saklarnya dimana sih .. koq tidak ada yang cocok. Disini pak... tunjuknya ke arah ruang dapur.. yang tentu jaraknya jauh dari kamar kecil. Walah... koq jauh amat....
Sesudah itu saya ngeloyor saja ke dapur, lantas pingincuci tangan, karena mau makan siang. Begitu kran saya tekan (krannya kebetulan sudah otomatis),.... sebentar saya selesai.. saya tunggu koq krannya lama baru mati. ISeng-iseng saya coba lagi, kalau saya cuci tangan kira-kira perlu 5 detik... eh... ternyata kran baru mati otomatis sekitar 15 detik.. dengan tekanan air yang cukup kencang untuk ukuran keperluan cuci tangan.
Ilustrasi diatas merupakan gambaran persoalan pemborosan disemua aspek. Dari urusan kamar kecil dan dapur... kalau soal air dan listrik sudah seringkali kita temukan pmeborosan dimana-mana. Lagi-lagi koq begitu sulitnya pemborosan dihilangkan dari kebiasaan kita. Kalau perusahaan saja yang punya sebuah sistem manajemen yang punya fungsi mengatur dan mengelola kegiatannya secara sistematis, toh masih saja pemborosan (kerennya = in-efisiensi) masih saja terjadi. Untungnya juga itu pabrik masih bisa berproduksi dan untung. Meskipun pemborosan pasti ada dimana-mana. Aneh tapi nyata. katanya Indonesia kesulitan energi listrik. Kadang-kadang sudah harus bergiliran,.. tetapi realita pemborosan dan ketidakpedulian ataupun ketidaktahuan masih saja terjadi di sebuah perusahaan.
Bagaimana kalau itu juga terjadi di seluruh Indonesia, ratusan ribu perusahaan skala besar sampai kecil. Sungguh pemborosan nasional yang luar biasa.
Dengan mayoritas negara berpenduduk muslim yang mengharamkan pemborosan alias mubazir...ternyata hingga saat ini masih banyak terjadi.
Disisi lain nun jauh disana negara-negara maju dan berkembang sedang berkutat dalam upaya mengatasi pemanasan global dengan berbagai isu dan argumentasinya.
Di depan mata kita masalah dan potensi mengatasi isu global warming ada di depan mata. Hentikan pemborosan, kemubaziran, in-efisiensi air dan energi dengan menerapkan strategi produksi bersih secara sistematis, terstruktur dan masif. Agar kita tidak terjebak dalam debat panjang jauh dari aksi.
Jika perusahaan efisien, negara juga efisien, daya saing industri meningkat, ekonomi maju, rakyat sejahtera, sustainability pasti terwujud. Think Global Act Local!!!
Selasa, 22 Desember 2009
Langganan:
Postingan (Atom)