Ketika saya masuk ke toilet di sebuah perusahaan susu terkenal, ketika keluar kamar kecil tersebut saya mau mematikan lampu kamar kecil tersebut. Tentu didekat pintulah saklarnya. Benar disebelah kiri pintu kamar kecil tersebut ada beberapa saklar dan saya klik yang paling kanan dari ketiga saklar yang ada. Eh... koq ndak mati,.. lantas saya klik sebelahnya.. koq sama.. klik lagi yang ketiga.. eh.. koq ndak mati juga. Kebetulan masih ada waktu sebelum acara poresentasi saya disana,... lalu saya ke saklar kedua.. klik lagi.. eh ndak mati juga itu lampu kamar kecil... busyet pikir saya. Ini pabrik soal saklar saja ndak beres. Bagaimana mau mengurus yang lebih dari itu. Ketika saya melangkah muncul seseorang yang dugaan saya pasti karyawan disitu,.. mas... "sapa saya",... ini saklarnya dimana sih .. koq tidak ada yang cocok. Disini pak... tunjuknya ke arah ruang dapur.. yang tentu jaraknya jauh dari kamar kecil. Walah... koq jauh amat....
Sesudah itu saya ngeloyor saja ke dapur, lantas pingincuci tangan, karena mau makan siang. Begitu kran saya tekan (krannya kebetulan sudah otomatis),.... sebentar saya selesai.. saya tunggu koq krannya lama baru mati. ISeng-iseng saya coba lagi, kalau saya cuci tangan kira-kira perlu 5 detik... eh... ternyata kran baru mati otomatis sekitar 15 detik.. dengan tekanan air yang cukup kencang untuk ukuran keperluan cuci tangan.
Ilustrasi diatas merupakan gambaran persoalan pemborosan disemua aspek. Dari urusan kamar kecil dan dapur... kalau soal air dan listrik sudah seringkali kita temukan pmeborosan dimana-mana. Lagi-lagi koq begitu sulitnya pemborosan dihilangkan dari kebiasaan kita. Kalau perusahaan saja yang punya sebuah sistem manajemen yang punya fungsi mengatur dan mengelola kegiatannya secara sistematis, toh masih saja pemborosan (kerennya = in-efisiensi) masih saja terjadi. Untungnya juga itu pabrik masih bisa berproduksi dan untung. Meskipun pemborosan pasti ada dimana-mana. Aneh tapi nyata. katanya Indonesia kesulitan energi listrik. Kadang-kadang sudah harus bergiliran,.. tetapi realita pemborosan dan ketidakpedulian ataupun ketidaktahuan masih saja terjadi di sebuah perusahaan.
Bagaimana kalau itu juga terjadi di seluruh Indonesia, ratusan ribu perusahaan skala besar sampai kecil. Sungguh pemborosan nasional yang luar biasa.
Dengan mayoritas negara berpenduduk muslim yang mengharamkan pemborosan alias mubazir...ternyata hingga saat ini masih banyak terjadi.
Disisi lain nun jauh disana negara-negara maju dan berkembang sedang berkutat dalam upaya mengatasi pemanasan global dengan berbagai isu dan argumentasinya.
Di depan mata kita masalah dan potensi mengatasi isu global warming ada di depan mata. Hentikan pemborosan, kemubaziran, in-efisiensi air dan energi dengan menerapkan strategi produksi bersih secara sistematis, terstruktur dan masif. Agar kita tidak terjebak dalam debat panjang jauh dari aksi.
Jika perusahaan efisien, negara juga efisien, daya saing industri meningkat, ekonomi maju, rakyat sejahtera, sustainability pasti terwujud. Think Global Act Local!!!
Selasa, 22 Desember 2009
Jumat, 27 November 2009
Limbah Tahu bisa jadi duit
Sedikt provokatif, tetapi memang itu yang ingin saya sampikan, bahwa sesungguhnya limbah adalah sumberdaya. Harus dikelola dicari cara bagaimana itu bisa terjadi. Disela-sela diskusi dengan kawan2 Pemda, dihadir oleh beberap pengrajin/industri kecil tahu di JArim ada sebuah pertanyaan yang tidak mampu saya jawab waktu itu, apa solusinya terhadap limbah cair industri tahu. Selama ini sarana pengolahan limbah sangat sederhana dan hasilnya dapat diduka, menimbulkan bau yang tdaiksedap. Solusi datang juga, salah salah peserta (Pak Edi Lianto) menyampaikan bahwa limbah cari tersebut dapat diolah menjadi pupuk bokashi. Sehingga sebuah masalah terjawab sudah. Semoga dapat diwujudkan. Trims pak Edi.
Beliau dapat di hub. di 0335-444860. Hp. 0335-7636366, email : hi;mymf@gmail.com
Beliau dapat di hub. di 0335-444860. Hp. 0335-7636366, email : hi;mymf@gmail.com
Rabu, 18 November 2009
Hambatan Manajemen
Susah pak, saya sudah training berkali-kali tapi manajemen tidak mendukung untuk penerapan CP di pabrik.... salah satu peserta dari industri berkomentar selepas saya menyampaikan presentasi mengenai Teknologi dan Produksi Bersih.
Memang kunci utama setiap kegiatan di dalam industri adalah komitmen dari pimpinannya. tanpa itu, walaupun berjalan namun tidak akan berkelanjutan, akhirnya membuat karyawan tidak kreatif, apatis, enggan berinovasi. Bagaiman caranya merubah mindset pimpinan di perusahaan. Tentu bisa ditempuh melalui berbagai acara atau cara.
Cari moment yang tepat, cari orang yang tepat untuk menyampaikan. Atau cari acara yang sesuai. tentu bukan dengan ikut pelatihan, mungkin dengan acara yang sifatnya seremonial, atau hadir pada acara launching suatu kegiatan yang terkait.
Ada ide lain, silahkan disampaikan...
Memang kunci utama setiap kegiatan di dalam industri adalah komitmen dari pimpinannya. tanpa itu, walaupun berjalan namun tidak akan berkelanjutan, akhirnya membuat karyawan tidak kreatif, apatis, enggan berinovasi. Bagaiman caranya merubah mindset pimpinan di perusahaan. Tentu bisa ditempuh melalui berbagai acara atau cara.
Cari moment yang tepat, cari orang yang tepat untuk menyampaikan. Atau cari acara yang sesuai. tentu bukan dengan ikut pelatihan, mungkin dengan acara yang sifatnya seremonial, atau hadir pada acara launching suatu kegiatan yang terkait.
Ada ide lain, silahkan disampaikan...
Jumat, 13 November 2009
Bisnis Anda dan Perubahan Iklim
Sepintas lalu mungkin sementara orang kesulitan memahami, apa hubungannya usaha perhotelan dengan pemanasan global, perubahan iklim... dan apa yang bisa diperbuat.
Coba kita mulai dari kegiatan rutin hotel. Ketika suatu acara seminar di sebuah ruangan yang besar...diman saya sedang presentasi.. saya bertanya kepada peserta.. apakah lampu yang di ruangan ini kalau saya minta dimatikan keberatan tidak... semua peserta diam saja... lantas saya minta tolong salah satu panitia... coba pak dimatikan sebagian saja kira2 setengahnya. apakah menggangu... sementara saya minta mereka tidak saya minta mencatat karena memang seminar bukan kuliah.. so..begitu sebagian lampu dimatikan.. saya tanya kembali.. apakah Anda terganggu... jawabnya tidak. Nah ini sebuah contoh kasus... dan banyak terjadi dimana-mana. Di hotel-hotel, di kantor, dijalan, di pabrik2. dimana saja. Bahwa peluang untuk berbuat melakkukan efisiensi lestrik, energi masih sanagt terbuka. Masalahnya adalah seringkali dan selalu terjadi.. kita mersa itu sesuatu yang sangat remeh... apalagi kita merasa toh sudah membayar hotelnya.
Berfikir secara sempit, ego itu yang mestinya kita coba ubah. Kalau setiap hotel menugaskan salah satu karyawannya untuk selalu berhubungan dengan panitia seminar... dengan komunikasi yang baik... tentu penghematan energi, peningkatan keuntungan, penuruna pengeluaran biaya listrik dan energi bisa terwujud. Kalau hal ini dilakukan di semua kegiatan... sungguh luar biasa penghematan nasional dalam energi. Dampaknya tentu bisa dibayangkan...
Kendala:
Mind set harus ada kemudian diwujudkan dalam sistem manajemen yang operasional sehingga dapat diukur secara sistematis.. sehingga saving bisa diketahui..
Kembangkan sistem penghargaan di perusahaan.. karena bagaimanapun insentif adalah bagian yang penting bagi karyawan yang berprestasi.
Tetapkan petugas atau tambahkan tugas yang berhubungan dengan Housekeeping .. dan catat dan ukur setiap masalah yang ditemukan dan potensi penghematan.
Bangun ownership setiap karyawan. agar upaya bisa berkelanjutan.. karena motive tertinggi dari setiap manusia dalam melakukan sesuatu adalah buykan karena diawasi bos, takut di potong bonus,.. tetapi menyukai dan mencintai terhadap apa yang dikerjakan dan dimiliki.
Komunikasi yang saling menghargai setiap level adalah kuncinya. Everybody is penting dan punya peran.
Kembali ke tema diatas,.. kalau energi bisa dihemat berarti hotel sudah berkontribusi melawan dampak global warming... masih banyak lagi yang bisa dilakukan... just do it. Think Global Act Local. Its true and doable. Start from simple and small, but giving big impact and benefit. Sustainable development is real. Not just jargon ...
Coba kita mulai dari kegiatan rutin hotel. Ketika suatu acara seminar di sebuah ruangan yang besar...diman saya sedang presentasi.. saya bertanya kepada peserta.. apakah lampu yang di ruangan ini kalau saya minta dimatikan keberatan tidak... semua peserta diam saja... lantas saya minta tolong salah satu panitia... coba pak dimatikan sebagian saja kira2 setengahnya. apakah menggangu... sementara saya minta mereka tidak saya minta mencatat karena memang seminar bukan kuliah.. so..begitu sebagian lampu dimatikan.. saya tanya kembali.. apakah Anda terganggu... jawabnya tidak. Nah ini sebuah contoh kasus... dan banyak terjadi dimana-mana. Di hotel-hotel, di kantor, dijalan, di pabrik2. dimana saja. Bahwa peluang untuk berbuat melakkukan efisiensi lestrik, energi masih sanagt terbuka. Masalahnya adalah seringkali dan selalu terjadi.. kita mersa itu sesuatu yang sangat remeh... apalagi kita merasa toh sudah membayar hotelnya.
Berfikir secara sempit, ego itu yang mestinya kita coba ubah. Kalau setiap hotel menugaskan salah satu karyawannya untuk selalu berhubungan dengan panitia seminar... dengan komunikasi yang baik... tentu penghematan energi, peningkatan keuntungan, penuruna pengeluaran biaya listrik dan energi bisa terwujud. Kalau hal ini dilakukan di semua kegiatan... sungguh luar biasa penghematan nasional dalam energi. Dampaknya tentu bisa dibayangkan...
Kendala:
Mind set harus ada kemudian diwujudkan dalam sistem manajemen yang operasional sehingga dapat diukur secara sistematis.. sehingga saving bisa diketahui..
Kembangkan sistem penghargaan di perusahaan.. karena bagaimanapun insentif adalah bagian yang penting bagi karyawan yang berprestasi.
Tetapkan petugas atau tambahkan tugas yang berhubungan dengan Housekeeping .. dan catat dan ukur setiap masalah yang ditemukan dan potensi penghematan.
Bangun ownership setiap karyawan. agar upaya bisa berkelanjutan.. karena motive tertinggi dari setiap manusia dalam melakukan sesuatu adalah buykan karena diawasi bos, takut di potong bonus,.. tetapi menyukai dan mencintai terhadap apa yang dikerjakan dan dimiliki.
Komunikasi yang saling menghargai setiap level adalah kuncinya. Everybody is penting dan punya peran.
Kembali ke tema diatas,.. kalau energi bisa dihemat berarti hotel sudah berkontribusi melawan dampak global warming... masih banyak lagi yang bisa dilakukan... just do it. Think Global Act Local. Its true and doable. Start from simple and small, but giving big impact and benefit. Sustainable development is real. Not just jargon ...
Limbah Tahu bisa jadi duit
Ketika saya ditanya oleh salah satu peserta dari producer tahu Usaha kecil (sebut saja Ibu Lia) dari Blitar ... pak bagaimana IPAL saya tidak berfungsi karena dipakai untuk mengolah limbah dari 6 unit usaha tahu akibatnya volume limbah melebihi kapasitas IPAL yang ada...
Kalau jawaban klasik tentu ya... IPALnya mesti dibesarin...tetapi itu tidak menyelesaikan persoalan. Karena akan muncul persoalan baru. Bagi pengusaha pasti mikir2 kalau harus invest lagi. Biaya lagi. Apalagi masuk dalam kategori usaha kecil...
Semangat mencari win-win solution tentu yang terbaik... Tiba2 ada peserta lain yang kemudian menyampaikan bahwa beliau (pak Edi) punya informasi bahwa limbah (cair) dari industri tahu bisa dimanfaatkan sebagai pupuk Bokashi. Ceritanya sudah ada solusi bahkan bisa laku Rp. 5000,- per liter.
Akhirnya kebuntuan mulai terkuak. Solusi ada di depan mata. Tinggal action Bu.. selahkan kontak Pak Edi..
Cleaner Production : merubah limbah menjadi berkah. Mulailah dari yang mudah...
Kalau jawaban klasik tentu ya... IPALnya mesti dibesarin...tetapi itu tidak menyelesaikan persoalan. Karena akan muncul persoalan baru. Bagi pengusaha pasti mikir2 kalau harus invest lagi. Biaya lagi. Apalagi masuk dalam kategori usaha kecil...
Semangat mencari win-win solution tentu yang terbaik... Tiba2 ada peserta lain yang kemudian menyampaikan bahwa beliau (pak Edi) punya informasi bahwa limbah (cair) dari industri tahu bisa dimanfaatkan sebagai pupuk Bokashi. Ceritanya sudah ada solusi bahkan bisa laku Rp. 5000,- per liter.
Akhirnya kebuntuan mulai terkuak. Solusi ada di depan mata. Tinggal action Bu.. selahkan kontak Pak Edi..
Cleaner Production : merubah limbah menjadi berkah. Mulailah dari yang mudah...
Jumat, 26 Juni 2009
Combating Global Warming - The Role of Industry
Melihat judulnya, keren juga ya seperti judulnya Rambo. Seperti mau perang melawan teroris. Yang artinya akan menghadapi sesuatu yang memang berpotensi membahayakan dan mengkhawatirkan jika tidak dilawan dengan sungguh-sungguh dan strategis.
Apa peran industri dan karyawannya tentu saja?
Global warming itu apa sih...
Pemanasan global....
Mengapa disebut global warming....
Karena proses pemanasannya ya melibatkan seluruh isi bumi ini....
Mengapa bisa terjadi pemanasan yang sifatnya global....
Karena bumi ini semakin panas...
Kenapa makin panas...
karena kita membakar sesuatu....
Mengapa kita membakar sesuatu....
karena kita memerlukan energi........
Energi apa yang kita perlukan...
Listrik...
Untuk apa listrik.....
Menerangi, menggerakkan mesin-mesin, menggerakkan, kendaraan, menggerakkan motor-,,,,memanaskan air, memompa air, merebus air menjadi uap,........
Dari mana listrik berasal...
Dari hasil pembakaran bahan bakar.....
Apa yang terjadi dalam proses pembakaran...
Menghasilkan gas rumah kaca...CO2.....
oh.., gitu tho.......
Jadi apa yang harus dilakukan?
Semua orang dan organisasi harus melakukan usaha efisiensi penggunaan bahan bakar fosil seperti migas dan batubara.
Semua orang harus berusaha mengurangi penggunaan listrik.
Semua orang harus berusaha tidak boros.
Boros itu mubazir ..... kata Kyai
Boros itu merusak lingkungan... kata pecinta lingkungan
Boros itu merugikan kita semua umatg di bumi.
Apa peran industri dan karyawannya tentu saja?
Global warming itu apa sih...
Pemanasan global....
Mengapa disebut global warming....
Karena proses pemanasannya ya melibatkan seluruh isi bumi ini....
Mengapa bisa terjadi pemanasan yang sifatnya global....
Karena bumi ini semakin panas...
Kenapa makin panas...
karena kita membakar sesuatu....
Mengapa kita membakar sesuatu....
karena kita memerlukan energi........
Energi apa yang kita perlukan...
Listrik...
Untuk apa listrik.....
Menerangi, menggerakkan mesin-mesin, menggerakkan, kendaraan, menggerakkan motor-,,,,memanaskan air, memompa air, merebus air menjadi uap,........
Dari mana listrik berasal...
Dari hasil pembakaran bahan bakar.....
Apa yang terjadi dalam proses pembakaran...
Menghasilkan gas rumah kaca...CO2.....
oh.., gitu tho.......
Jadi apa yang harus dilakukan?
Semua orang dan organisasi harus melakukan usaha efisiensi penggunaan bahan bakar fosil seperti migas dan batubara.
Semua orang harus berusaha mengurangi penggunaan listrik.
Semua orang harus berusaha tidak boros.
Boros itu mubazir ..... kata Kyai
Boros itu merusak lingkungan... kata pecinta lingkungan
Boros itu merugikan kita semua umatg di bumi.
Pisau Potong Rumput
Pertanyaan tersebut muncul ketika saat diskusi dalam sebuah pelatihan Produksi Bersih yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Lingkungan Hiudp Kabupaten Gresik.
Kira-2 dalam dialog seperti ini:
Q: Pak saya (sebut saja Pak Joko) menghadapi masalah yang selalu berulangulang terjadi dalam tugas saya di perusahaan, karena karyawan saya (sebut saja Agus) yang bertugas memotong rumput di halaman perusahaan setiap bulan pasti selalu minta dibelikan pisau potong rumput. Akibatnya saya sering ditegur oleh bagian Finance karena dianggap membebani keuangan perusahaan. Sementara itu Bos perusahaan juga selalau menegur saya dan mengingatkan saya agar rumput di halaman kantor harus selalu terjaga kerapiannya. Berarti saya harus selalu memastikan agar tukang rumput yang juga bawahan saya tetap dapat melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi karena pihak keuangan perusahaan juga sering menegur saya kerena pengeluaran budget pengadaaan pembelian pisau rumput dianggap terlalu sering bahkan cenderung dicurigai maka seringkali pengadaan jadi terlambat. akibatnya lagi tukang rumput menjadi ogah-ogahan bekerja dan cenderung ngambeg karena pisaunya tidak dapat segera dipenuhi.
A: Kunci permasalahannya saya kira adalah tidak adanya kesamaan visi di perusahaan khususnya dalam hal keinginan Bos perusahaan yang selalu menginginkan kerapian halaman perusahaan yakni rumput harus selalu rapi setiap saat. Nampaknya persoalan ini sepele tetapi karena permintaan Bos maka mau tidak mau siapapun yang diberi tanggungjawab harus dapat melakukannya dengan baik.
Dengan kasus diatas sebetulnya kuncinya sangat sederhana, apakah keinginan Bos tersebut diketahui oleh semua pihak dalam manajemen perusahaan. Apakah pernah dibahas dalam rapat rutin yang dihadiri oleh semua manajer yang tentu saja saling terkait. Kalau pak Joko adalah orang yang selalu menjadi tertuduh Bos jika ada masalah dengan rumput yuang tidak rapi, apakah Pak Joko sudah melaporkan ke atasannya yang tentu memiliki kewenangan dan akses kepada manajer keuangan. Sehingga jika ada permasalah yang terjadi selalu dapat dikomunikasikan dengan tepat dan oleh orang yang tepat.
Kenapa selama ini Pak Joko tidak melakukan hal itu? Mungkin saja ada alasan tertentu misalnya Pak Joko menganggap bahwa hanya soal potong rumput saja koq tida bisa menyelesaikan sendiri. Tetapi kalau dijalani sendiri ternyata banya kendala juga. Akhirnya lama-kelamaan menjadi beban sendiri dan akan terus terjadi.
Saran saya adalah komunikasikan dengan cara yang baik kepada atasana langsung agar masalah seperti ini menjadi perhatian dan akhirnya disadari oleh semua pihak. tentu dengan beberapa usulan solusi. Selain aspek teknis yang selalu ingin ganti pisau baru, perlu dicek juga apakah ada upaya-upaya yang lain yang sudah dilakukan agar pisau rumput tidak terlalu sering ganti. Apakah mesin potong dalam kondisi yang baik? Apakah cara menggunakan mesin juga dilakukans esuai prosedur. Apakah penyebabnya bisa dihilangkan dengan merubah cara penggunaannya, ataukan ada hal-hal lain yang harus diperhatikan agar sebelum memotong rumput harus memperhatikan kondisi halaman atau taman yang akan dipotong. Misalnaya apakah diperiksa adakah batu atau kerikil di sekitar halaman yang dapat menyebabkan mata pisau cepat rusak, dll.
Intinya komunikasikan dengan sesama manajer disertai dengan argumen dan upaya yang dilakukan. Hasilnya kemudian disosialisasikan ke semua pihak yang terkait agar dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan komplikasi yang tidak perlu.
Kembalikan kedalam mekanisme manajemen yang baku. Seolah-olah masalahnya ringan padahal dalam sebuah organisasi, sesederhana apapun masalah harus dicari kesamaan dalam pemahamannya. Sehingga persepsi yang timbul tidak berlainan dan menimbulkan akibat yang tidak dikehendaki oleh semua pihak. Singkatnya kembali ke siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action).
Tips:
Janganlah meremehkan sesuatu yang seolah-olah remeh dan sederhana dimata Anda padahal masalah tersebut terjadi di dalam suatu organisasi yang di dalamnya melibatkan berbagai unsur manajemen yang sangat mungkin memiliki cara pandang berlainan.
Kira-2 dalam dialog seperti ini:
Q: Pak saya (sebut saja Pak Joko) menghadapi masalah yang selalu berulangulang terjadi dalam tugas saya di perusahaan, karena karyawan saya (sebut saja Agus) yang bertugas memotong rumput di halaman perusahaan setiap bulan pasti selalu minta dibelikan pisau potong rumput. Akibatnya saya sering ditegur oleh bagian Finance karena dianggap membebani keuangan perusahaan. Sementara itu Bos perusahaan juga selalau menegur saya dan mengingatkan saya agar rumput di halaman kantor harus selalu terjaga kerapiannya. Berarti saya harus selalu memastikan agar tukang rumput yang juga bawahan saya tetap dapat melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi karena pihak keuangan perusahaan juga sering menegur saya kerena pengeluaran budget pengadaaan pembelian pisau rumput dianggap terlalu sering bahkan cenderung dicurigai maka seringkali pengadaan jadi terlambat. akibatnya lagi tukang rumput menjadi ogah-ogahan bekerja dan cenderung ngambeg karena pisaunya tidak dapat segera dipenuhi.
A: Kunci permasalahannya saya kira adalah tidak adanya kesamaan visi di perusahaan khususnya dalam hal keinginan Bos perusahaan yang selalu menginginkan kerapian halaman perusahaan yakni rumput harus selalu rapi setiap saat. Nampaknya persoalan ini sepele tetapi karena permintaan Bos maka mau tidak mau siapapun yang diberi tanggungjawab harus dapat melakukannya dengan baik.
Dengan kasus diatas sebetulnya kuncinya sangat sederhana, apakah keinginan Bos tersebut diketahui oleh semua pihak dalam manajemen perusahaan. Apakah pernah dibahas dalam rapat rutin yang dihadiri oleh semua manajer yang tentu saja saling terkait. Kalau pak Joko adalah orang yang selalu menjadi tertuduh Bos jika ada masalah dengan rumput yuang tidak rapi, apakah Pak Joko sudah melaporkan ke atasannya yang tentu memiliki kewenangan dan akses kepada manajer keuangan. Sehingga jika ada permasalah yang terjadi selalu dapat dikomunikasikan dengan tepat dan oleh orang yang tepat.
Kenapa selama ini Pak Joko tidak melakukan hal itu? Mungkin saja ada alasan tertentu misalnya Pak Joko menganggap bahwa hanya soal potong rumput saja koq tida bisa menyelesaikan sendiri. Tetapi kalau dijalani sendiri ternyata banya kendala juga. Akhirnya lama-kelamaan menjadi beban sendiri dan akan terus terjadi.
Saran saya adalah komunikasikan dengan cara yang baik kepada atasana langsung agar masalah seperti ini menjadi perhatian dan akhirnya disadari oleh semua pihak. tentu dengan beberapa usulan solusi. Selain aspek teknis yang selalu ingin ganti pisau baru, perlu dicek juga apakah ada upaya-upaya yang lain yang sudah dilakukan agar pisau rumput tidak terlalu sering ganti. Apakah mesin potong dalam kondisi yang baik? Apakah cara menggunakan mesin juga dilakukans esuai prosedur. Apakah penyebabnya bisa dihilangkan dengan merubah cara penggunaannya, ataukan ada hal-hal lain yang harus diperhatikan agar sebelum memotong rumput harus memperhatikan kondisi halaman atau taman yang akan dipotong. Misalnaya apakah diperiksa adakah batu atau kerikil di sekitar halaman yang dapat menyebabkan mata pisau cepat rusak, dll.
Intinya komunikasikan dengan sesama manajer disertai dengan argumen dan upaya yang dilakukan. Hasilnya kemudian disosialisasikan ke semua pihak yang terkait agar dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan komplikasi yang tidak perlu.
Kembalikan kedalam mekanisme manajemen yang baku. Seolah-olah masalahnya ringan padahal dalam sebuah organisasi, sesederhana apapun masalah harus dicari kesamaan dalam pemahamannya. Sehingga persepsi yang timbul tidak berlainan dan menimbulkan akibat yang tidak dikehendaki oleh semua pihak. Singkatnya kembali ke siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action).
Tips:
Janganlah meremehkan sesuatu yang seolah-olah remeh dan sederhana dimata Anda padahal masalah tersebut terjadi di dalam suatu organisasi yang di dalamnya melibatkan berbagai unsur manajemen yang sangat mungkin memiliki cara pandang berlainan.
Selasa, 16 Juni 2009
Pengelolaan Lingkungan di Industri Karet
Baru-baru ini saya membaca sebuat buku tepatnya Pedoman dengan judul diatas yang diterbitkan pada Tahun 2009 oleh JETRO (Japan External Trade Organization). Setelah saya lihat isinya terdapat beberapa point mendasar yang nampak menjadi suatu kebutuhan kalau tidak sebagai keharusan.
1. Ternyata industri merasa bahwa sudah saatnya semua industri memiliki suatu struktur organisasi yang secara khusus menangani masalah lingkungan hidup. Keharusan ini semestinya segera ditangkap dan direspon oleh Pemerintah agar kehendak dan kerelaan industri untuk mengatur diri sendiri (ADS) khususnya industri karet agar pengelolaan lingkungan oleh industri semakin terarah dan terintegrasi tidak sekedar menangani limbah (end of pipe) tetapi sudah memperhatikan aspek lingkungan sejak hulu sampai hilir. Sehingga konsep Produksi Bersih yang telah lama dikembangkan di Indonesia juga dapat terlaksana karena pemahaman organisasi dalam hal lingkungan semakin terbuka.
2. Konsep Produksi Bersih sudah seharusnya bisa lebih cepat dilaksakan oleh industri Karet di Indonesia karena sisi manfaat dan keuntungan jelas sekali dipaparkan di Bukku pedoman tersebut;
3. Saya yakin permasalah seperti teknologi, tenaga ahli tidak ada lagi, tinggal kemauan dan komitmen yang kuat dalam menerapkan strategi PB yang harus terus ditingkatkan. Peran Asosiasi (GAPKINDO) selama ini akan semakin strategis karena akan memneri added value bagi anggotanya.
Majulah industri karet Indonesia.
1. Ternyata industri merasa bahwa sudah saatnya semua industri memiliki suatu struktur organisasi yang secara khusus menangani masalah lingkungan hidup. Keharusan ini semestinya segera ditangkap dan direspon oleh Pemerintah agar kehendak dan kerelaan industri untuk mengatur diri sendiri (ADS) khususnya industri karet agar pengelolaan lingkungan oleh industri semakin terarah dan terintegrasi tidak sekedar menangani limbah (end of pipe) tetapi sudah memperhatikan aspek lingkungan sejak hulu sampai hilir. Sehingga konsep Produksi Bersih yang telah lama dikembangkan di Indonesia juga dapat terlaksana karena pemahaman organisasi dalam hal lingkungan semakin terbuka.
2. Konsep Produksi Bersih sudah seharusnya bisa lebih cepat dilaksakan oleh industri Karet di Indonesia karena sisi manfaat dan keuntungan jelas sekali dipaparkan di Bukku pedoman tersebut;
3. Saya yakin permasalah seperti teknologi, tenaga ahli tidak ada lagi, tinggal kemauan dan komitmen yang kuat dalam menerapkan strategi PB yang harus terus ditingkatkan. Peran Asosiasi (GAPKINDO) selama ini akan semakin strategis karena akan memneri added value bagi anggotanya.
Majulah industri karet Indonesia.
Minggu, 07 Juni 2009
Kamis, 23 April 2009
Get the Taste of Cleaner Production !!!
Itu kata kunci meluncur dari mulut saya ketika mengisi sebuah pelatihan mengenai Pengelolaan Lingkungan terpadu bagi Industri KEcil Menengah (IKM).
Soal lingkungan sebenarnya bisa dan sangat bisa ditangani tanpa harus ribut-ribut soal pencemaran, siapa yang salah, selama visinya memang mencari solusi. Bukan mencari korban. Apalagi dalam situasi krisi yang katanya masih terus dan terus terjadi, tidak ada sseorangpun yang mampu memberi jawaban yang pasti. karena memang sangat kompleks permasalahan yang kita hadapi.
So, apa yang harus kita lakukan, itu yang mesti kita segerakan. jangan terlalau lam terlena dalam debat, mimpi, dan tanpa solusi. Yang tentu menjadi beban, berkepanjangan.
Ketika Kata Get the taste saya sampaikan, maka tujuannya agar kehadiran peserta dalam suatu acara harus mendapatkan sesuatu yang segere bisa diimplementasikan di tempat masing-masing. Sekecil apapun sebuah langkah akan sangat berarti selama diiringin dengan suatu keyakinan dan semangat...
So, apapun yang kita lakukan, dimanapun, kapanpu, jangan lupa GET the TASTE... seperti kata iklan.... Salam sukses.

Soal lingkungan sebenarnya bisa dan sangat bisa ditangani tanpa harus ribut-ribut soal pencemaran, siapa yang salah, selama visinya memang mencari solusi. Bukan mencari korban. Apalagi dalam situasi krisi yang katanya masih terus dan terus terjadi, tidak ada sseorangpun yang mampu memberi jawaban yang pasti. karena memang sangat kompleks permasalahan yang kita hadapi.
So, apa yang harus kita lakukan, itu yang mesti kita segerakan. jangan terlalau lam terlena dalam debat, mimpi, dan tanpa solusi. Yang tentu menjadi beban, berkepanjangan.
Ketika Kata Get the taste saya sampaikan, maka tujuannya agar kehadiran peserta dalam suatu acara harus mendapatkan sesuatu yang segere bisa diimplementasikan di tempat masing-masing. Sekecil apapun sebuah langkah akan sangat berarti selama diiringin dengan suatu keyakinan dan semangat...
So, apapun yang kita lakukan, dimanapun, kapanpu, jangan lupa GET the TASTE... seperti kata iklan.... Salam sukses.
Selasa, 17 Maret 2009
Waste or By-Product
Sebelumnya mohon maaf kalau ketikannya banyak yang salah. Tapoi saya yakin tanpa saya perbaikipun Anda pasti bisa menebah eh menebak apa maksud tulisan disini ? sSengaja . Orang sekarang juga suka kirim sms dengan singkatan-2 yang kadang bikin pusihing. OK. Selamat menikmati .....Tapi sisnya dijanmin seiruis ;lah ...serius gitu loh...
Ada suatu kejadian di sebuah industri yang menghasilkan limbah yang dikategorikan sebagai limbah B3 (Bahan baerbaghaya dan beracun). Selama ini limbah trersebut dikelola oleh pihak ke-3 sebuah perusahaan yang mengkhususkan diris ebagai jasa pengelolaan LB3.
Suatu ketika ada seseorang yang mendatangi perusahaan tersebut dan menawarkan untuk membeli limbah ynag selama ini dikelola oleh perusahaan pertama. Iming-imingnya adalah karena limbah tersebut sebenarnya bukan limbah tetapi by-product.
Mendengar tawaran tadi tentu saja dari sisi finansial sangat memberikan harapan. Apalagi mau dibeli. Bagaimana pendapat Anda dengan kasus sep[erti ini ? Apakah menerima tawaran pihak kedua tadi ataukan tetap mengggunkan jasa pihak pertama?
Waste is Resource
Waste is money
Waste is health

Ada suatu kejadian di sebuah industri yang menghasilkan limbah yang dikategorikan sebagai limbah B3 (Bahan baerbaghaya dan beracun). Selama ini limbah trersebut dikelola oleh pihak ke-3 sebuah perusahaan yang mengkhususkan diris ebagai jasa pengelolaan LB3.
Suatu ketika ada seseorang yang mendatangi perusahaan tersebut dan menawarkan untuk membeli limbah ynag selama ini dikelola oleh perusahaan pertama. Iming-imingnya adalah karena limbah tersebut sebenarnya bukan limbah tetapi by-product.
Mendengar tawaran tadi tentu saja dari sisi finansial sangat memberikan harapan. Apalagi mau dibeli. Bagaimana pendapat Anda dengan kasus sep[erti ini ? Apakah menerima tawaran pihak kedua tadi ataukan tetap mengggunkan jasa pihak pertama?
Waste is Resource
Waste is money
Waste is health

Selasa, 24 Februari 2009
Memulai Produksi Bersih
Ketika pertanyaan disampaikan kepada saya mengenai apa itu produksi bersih, maka yang meluncur dari mulut saya adalah terminologinya. Mungkin kalau kita klik di web site produksi bersih, bisa-bisa yang muncul dalah informasi mengenai produk pembersih, sabun cuci dan sebagainya.
Jadi memeahami produksi bersih tergatung dengan siapa kita bicara. Kalau ketemu dengan seorang pemimpin suatu perusahaan tentu berbeda dengan seorang manajer atau seorang cleaning service di sebuah hotel ternama misalnya.
Kita harus bisa memahami apa kira-kita interest dari kawan bicara kita. Sehingga arah pembicaraan bisa menghasilkan suatu titik temu yang intinya bahwa terdapat sauatu pemahaman bahwa suatu masalah dapat diselsaikan dengan dua sisi dan menghasilkan manfaat dari dau sisi juga. Yaitu manfaat dari aspek lingkungan yakni mengurangi atau mencegah terjadinya pencemaran, disisi lain adalah adanya manfaat ekonomi bagi lawan bicara kita. Sisi ekonomi menurut saya tidak sebata uang, tetapi aspek lain yang terkait dengan itu, lagi-lagi dengan siapa kita bicaira. kalau dengans eorang CEO tentu aspek competitiveness dan image building mungkin lebih pas. Sdangkan dengan seorang supervisor aau engineer tentu lebih teknis dan terukur dari sumberdaya, air, energi yang bisa dihemat sehingga mereka yakin bahwa manfaat ganda dengan pendekatan tersebut (CP) bisa dicapai.
Jadi memeahami produksi bersih tergatung dengan siapa kita bicara. Kalau ketemu dengan seorang pemimpin suatu perusahaan tentu berbeda dengan seorang manajer atau seorang cleaning service di sebuah hotel ternama misalnya.
Kita harus bisa memahami apa kira-kita interest dari kawan bicara kita. Sehingga arah pembicaraan bisa menghasilkan suatu titik temu yang intinya bahwa terdapat sauatu pemahaman bahwa suatu masalah dapat diselsaikan dengan dua sisi dan menghasilkan manfaat dari dau sisi juga. Yaitu manfaat dari aspek lingkungan yakni mengurangi atau mencegah terjadinya pencemaran, disisi lain adalah adanya manfaat ekonomi bagi lawan bicara kita. Sisi ekonomi menurut saya tidak sebata uang, tetapi aspek lain yang terkait dengan itu, lagi-lagi dengan siapa kita bicaira. kalau dengans eorang CEO tentu aspek competitiveness dan image building mungkin lebih pas. Sdangkan dengan seorang supervisor aau engineer tentu lebih teknis dan terukur dari sumberdaya, air, energi yang bisa dihemat sehingga mereka yakin bahwa manfaat ganda dengan pendekatan tersebut (CP) bisa dicapai.

Selasa, 03 Februari 2009
Cleaner Production - business sustainability
Kalau industri tidak kenal konsep Cleaner Production ya menurut saya ya ketinggalan jaman. Hari gini gitu loh ???
Masalahnya sejauhmana konsep CP (Cleaner Production) diterapkan secara konsisten dan sustainable. Yakinkah CP menjadi tools yang harus diterapkan di perusahaan?. Kalau sudah pernah jalan, mengapa saat ini seakan-akan sudah tidak ada kelanjutannya lagi?
Bagi yang saat ini masih konsisten menjalankannya, sejauhmana CP dapat tetap sinergi dengan policy perusahaan.?
Yang mesti terus diperhatikan adalah, bagaimana agar CP bisa menunjang terwujudnya business sustainability dalam kondisi dan situasi apapun.
Melalui forum ini kita bisa sharing mengenai
- pemahaman konsep CP itu sendiri ?
- Bagaimana menerapkan CP di perusahaan ?
- Bagaimana agar CP sejalan dengan visi perusahaan ?
- Peluang-peluang apa yang bisa kita kembngkan melalui konsep CP ?
Semoga sukses.

Masalahnya sejauhmana konsep CP (Cleaner Production) diterapkan secara konsisten dan sustainable. Yakinkah CP menjadi tools yang harus diterapkan di perusahaan?. Kalau sudah pernah jalan, mengapa saat ini seakan-akan sudah tidak ada kelanjutannya lagi?
Bagi yang saat ini masih konsisten menjalankannya, sejauhmana CP dapat tetap sinergi dengan policy perusahaan.?
Yang mesti terus diperhatikan adalah, bagaimana agar CP bisa menunjang terwujudnya business sustainability dalam kondisi dan situasi apapun.
Melalui forum ini kita bisa sharing mengenai
- pemahaman konsep CP itu sendiri ?
- Bagaimana menerapkan CP di perusahaan ?
- Bagaimana agar CP sejalan dengan visi perusahaan ?
- Peluang-peluang apa yang bisa kita kembngkan melalui konsep CP ?
Semoga sukses.

Langganan:
Postingan (Atom)